zwani.com
apa kabar kamu hari ini
salam hangat buat faithfredoom.org semoga bermanfaat bagi anda dan untuk non muslim ma’af bila ada kata-kata kurang berkenan Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu semoga allah swt membuka mata hati faithfreedom terhadap islam.
Image by Anime Myspace Comments
MyNiceProfile.com

Sabtu, 09 Oktober 2010

Ajaran Kristen Zaman Sekarang

Masalah paling besar yang dihadapi dunia Kristen zaman sekarang bukanlah masalah kurangnya pemahaman, sebagaimana kurangnya kehendak dan keinginan untuk menerima kebenaran. Ajaran Kristen, apakah itu yang berupa kisah dongeng atau pun kisah nyata, telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari peradaban Barat dan telah memainkan suatu peran penting dalam kolonisasi dan penaklukan-penaklukan imperialisme mereka. Ajaran Kristen mendukung sistim-sistim politik dan ekonomi mereka serta memberikan, kepada mereka suatu kekuatan yang menyatu dan saling bertalian, sehingga menjadikan mereka sebagai satu wujud yang kuat dan menyatu. Ajaran Kristen telah memainkan sebuah peran vital dalam membangun dan membentuk sistim sosial politik dan ekonomi Barat yang pelik. Apa yang kita pahami sebagai peradaban Barat atau imperialisme Barat dan dominasi ekonominya, telah dirasuki oleh beberapa unsur ajaran Kristen. Dalam kondisinya sekarang, ajaran Kristen tampak cenderung berbakti dengan lebih baik bagi tujuan-tujuan material Barat dibandingkan bagi tujuan ruhani. Sedangkan pada masa lalu peran ajaran Kristen lebih banyak mengarah pada dukungan terhadap kepercayaan-kepercayaan Kristen dan dalam membangun nilai-nilai moral.
Peran paling bersejarah yang telah dimainkan oleh ajaran Kristen, adalah dalam membangun dan memperbesar Imperialisme Barat. Dunia Timur telah ditaklukkan dengan semangat Kristen dan khususnya dalam peperangan yang dilakukan terhadap kerajaan Islam yang didorong secara kuat oleh kebencian Kristen terhadap Islam.

Kristen dan Kolonialisme
Ketika kekuasaan kolonial menaklukkan hampir seluruh benua Afrika dan mengikat penduduk Afrika mulai dari mahkota hingga ke ujung kaki dalam rantai-rantai ikatan politik, mereka tidak harus menunggu lama sampai tangan dan kaki mereka terikat dalam rantai-rantai perbudakan ekonomi. Penaklukan-penaklukan imperial tidak akan bermakna tanpa suatu penaklukan ekonomi rakyat. Tidak jauh di belakang para penguasa politik dan ekonomi, datanglah para pendeta Kristen, mengenakan jubah kerendahan hati dan pengorbanan diri. Tujuan mereka mengunjungi Afrika tampil [seolah-olah] sama sekali bertolak belakang dengan tujuan barisan depan politik dan ekonomi mereka. Mereka datang tidak untuk memperbudak, seperti yang mereka katakan, tetapi untuk memerdekakan jiwa Afrika. Cukup mengejutkan bahwa rakyat Afrika tidak mempertanyakan niat yang tampaknya mulia itu. Mengapa mereka tidak mempertanyakan secara hormat para pemimpin Gereja yang ramah dan dermawan, misalnya mengapa para pendeta itu harus kasihan hanya terhadap jiwa-jiwa mereka saja? Tidakkah para pendeta itu dapat melihat betapa tubuh mereka telah diperbudak secara keji? Bagaimana sampai kemerdekaan politik mereka tanpa alasan telah dirampas? Bagaimana sampai mereka telah diikat dalam rantai-rantai perbudakan ekonomi? Mengapa para pendeta itu tidak kasihan terhadap kondisi lahiriah mereka yang dibelenggu dan mengapa mereka hanya tertarik pada pembebasan jiwa suatu masyarakat yang telah diperbudak?
Kontradiksi yang melekat ini nyata sekali, tetapi tidak terlalu nyata bagi mereka yang telah menjadi mangsa korban rekayasa-rekayasa Kristen. Afrika memang lugu, dan lebih lugu sekarang dibandingkan dua ratus tahun lalu. Masyarakat Afrika masih tidak menyadari perbuatan memperbudak mereka secara politik maupun ekonomi melalui sistim neo-kolonialisme yang tidak tampak dan dikendalikan jarak jauh. Mereka tetap tidak merasakan bahwa bagi mereka Kristen hanyalah suatu alat penjajahan.
Seperti opium yang telah membuat mereka terleria dalam tidur nyenyak tanpa sadar. Hal itu memberikan rasa keterikatan mereka yang keliru terhadap para penguasa mereka dalam menikmati bersama paling tidak sesuatu pada landasan yang setara dengan mereka Dalam makna keterikatan seperti itulah mereka telah digiring untuk meniru gaya hidup Barat yang sangat mahal. Pohon-pohon tetap tertanam dinegeri-negeri asing, tetapi hanya buah-buah saja yang diangkut kepada orang-orang yang telah ketagihan terhadap rasa buah tersebut. Inilah sebuah gambaran kecil bagaimana Kristen selamanya telah menjadi sangat dibutuhkkan bagi imperial Barat dan penjajahan ekonomi Dunia Ketiga.
Di Barat sendiri, terlepas dari apakah seorang awam memahami kepelikan dogma Kristen atau tidak, dia memandang Kristen sebagai suatu bagian yang menyatu dalam budaya dan peradabannya. Hendaknya diingat, kekuatan nyata nilainilai Kristen, di mana pun nilai-nilai itu bertahan, tidaklah terletak pada kepercayaan-kepercayaan Kristen yang berbau dongeng. Melainkan, terletak pada penekanan terhadap kebaikan, simpati, pengabdian demi penderitaan dari nilainilai lainnya yang telah identik dengan Kristen. Walaupun nilai-nilai ini umum terdapat pada seluruh agama di dunia dan tampaknya merupakan tujuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan untuk dicapai oleh seluruh umat manusia, tetapi propaganda gencar yang dilakukan oleh Kristen secara terusmenerus menekankan peran-peran tersebut dalam kaitan dengan Kristen saja, dan dengan demikian telah berhasil membuat orang-orang yakin dalam jumlah besar. Ajaran tentang simpati, baik budi, kebaikan dan perilaku lembut memainkan pengaruh magic pada telinga-telinga dengan musiknya yang memukau. Dunia romantis inilah yang secara umum telah menarik orang-orang ke dalam agama Kristen. Demikianlah, secara beriringan, berbeda dari itu; Kristen menjalankan kenyataan-kenyataan keras, politik, ekonomi kehidupan Barat dan penjajahannya di seluruh dunia.
Tampaknya paradoks dogmatis yang harus dijalani oleh umat Kristen dalam hidup mereka, dalam kadar tertentu telah menjelma dalam perilaku keduniawian mereka. Kebaikan, kerendahan hati, toleransi, pengorbanan dan kata-kata mulia lainnya seperti itu tampil bergandengan dengan kekejaman, penindasan, ketidakadilan yang menyolok, dan penjajahan dalam skala besar di dunia terhadap orang-orang yang tidak mampu membela diri. Ketentuan hukum, keadilan dan aturan main yang jujur tampaknya hanya merupakan mata uang yang berlaku di kalangan budaya-budaya Barat sendiri saja. Dalam hubungan-hubungan internasional, ternyata ketentuan-ketentuan itu diperlakukan sebagai istilah-istilah tolol dan kuno yang harus dilakukan secara sungguh-sungguh hanya oleh pihak-pihak yang lugu.
Politik-politik internasional, hubungan-hubungan diplomasi dan ekonomi tidak mengenal keadilan selain yang menguntungkan bagi kepentingan nasional. Nilai-nilai ajaran Kristen, betapa pun baiknya, tidak diizinkan untuk memasuki kawasan kekuasaan politik-politik dan ekonomi Barat. Ini merupakan kontradiksi yang paling tragis di zaman modern.
Ketika sampai kepada gambaran yang ditampilkannya, ajaran Kristen hanya ditampilkan dalam bentuk budaya dan peradaban Barat yang atraktif yang mengajak dunia Timur kepada suatu kehidupan yang nyaman, riang, serba memperbolehkan, dibandingkan dengan ketentuanketentuan yang umumnya kaku pada masyarakatmasyarakat agama mereka yang merosot. Ajaran emansipasi/kebebasan ini dalam skala besar keliru dipahami oleh masyarakat yang kurang terpelajar di Dunia Ketiga sebagai sesuatu yang sangat atraktif. Ditambah lagi keuntungan psikologis tambahan berupa perolehan suatu rasa kepemilikan terhadap dunia maju melalui kesamaan agama, dan orang mulai mengenali peran hakiki Kristen dalam menarik sejumlah besar orang-orang yang terinjakinjak di bawah, dalam banyak kasus, orang-orang buangan dan orang-orang tertindas pada tingkatan terendah di masyarakat mereka sendiri yang terpecah-pecah dalam berbagai kelas. Adalah di luar jangkauan mereka untuk memahami dogma Kristen. Kristen hanya berfungsi untuk mengangkat status kemanusiaan mereka saja, tetapi secara palsu.
Dari hal di atas hendaknya menjadi jelas bahwa ajaran Kristen yang kita bicarakan ini sangat jauh dari ajaran Kristen Yesus Kristus. Menganggap budaya Barat sebagai ajaran Kristen adalah suatu kekeliruan nyata. Mengaitkan bentuk ajaran Kristen zaman sekarang dalam berbagai bidang kepada Kristus, adalah suatu penghinaan terhadap beliau. Memang terdapat pengecualian-pengecualian dalam setiap ketentuan. Tidak ada pernyataan yang berlaku secara menyeluruh terhadap suatu kelompok besar. Tidak diragukan, masih terdapat sejumlah kecil pulau-pulau harapan individu dan kehidupan di dunia Kristen di mana ketulusan, kecintaan dan pengorbanan menurut ajaran Kristen diterapkan secara murni. Ini adalah `pulau-pulau' harapan yang dikitari oleh samudera-samudera ganas ketidak-bermoralan yang secara perlahan dan bertahap mengikis dan akhirnya mencaplok batas-batas yang lebih banyak lagi dari pulau-pulau tersebut. Jika dunia Kristen tidak disinari oleh tauladan-tauladan Kristen yang berkilauan seperti itu, yang dilakukan sesuai teladan Yesus Kristus, betapa pun jauh antara keduanya dan sedikit, maka suatu kegelapan menyeluruh akan menyelimuti cakrawala Barat. Tanpa Kristen, tidak ada cahaya dalam peradaban Barat, tetapi, sayangnya, cahaya itu pun cepat memudar.
Penting bagi dunia Kristen untuk kembali kepada realita Kristus dan mengobati diri mereka sendiri dari terpecahnya jatidiri mereka dan dari kemunafikan yang mendarah-daging. Terus-menerus hidup dalam suatu dunia mitos dan legendalegenda, sangat berpotensi mengalami resiko-resiko mematikan. Tujuan utama pengkajian ini adalah untuk menyadarkan dunia Kristen tentang bahaya-bahaya besar yang menanti di balik kontradiksi yang semakin lebar antara keimanan dan amal perbuatan mereka. Mitos-mitos memang bagus, sepanjang tujuannya untuk menjajah jenjang-jenjang masyarakat terendah sebagai cara untuk mengendalikan mereka dan mengeksploitasi ketidaktahuan mereka dengan cara membuat mereka tetap terbius. Namun, apabila tiba saatnya keimanan-keimanan yang memainkan peran vital dalam menghidupkan suatu masyarakat yang telah mati dan merekonstruksi nilai-nilai moral mereka yang merosot dengan cepat, maka mitos-mitos seperti itu tidak ada gunanya. Mitos-mitos hanyalah khayalan-khayalan, dan khayalan-khayalan tidak pernah dapat memainkan suatu peran bermakna dalam urusan umat manusia.

Kedatangan Kembali Yesus Kristus
Penerapan [hasil] pengamatan-pengamatan yang telah dilakukan sejauh ini sekarang dapat diperagakan. Permasalahan vital tentang keselamatan umat manusia zaman sekarang, berkisar pada sosok sentral Yesus Kristus. Oleh karena itu sangat penting untuk memahami realita beliau. Siapa beliau dan peran apa yang telah beliau mainkan pada saat pertama sebagai Kristus di tengah-tengah masyarakat Yahudi yang telah merosot? Seberapa jauh kesungguhan kita dapat menanggapi janji kedatangan beliau kembali di akhir zaman? Inilah permasalahan-permasalahan vital yang harus kita perbincangkan.
Jika sosok Yesus Kristus tidak nyata dan hanya merupakan sebuah produk khayalan manusia, maka tidak mungkin untuk membayangkan kedatangan beliau kembali. Akan tetapi, walau bagaimanapun Yesus bukanlah sebuah produk khayalan. Beliau adalah seorang manusia nyata, dan hanya sebagai manusia nyatalah beliau dapat dilahirkan kembali sebagai seorang anak manusia, dan bukan turun sebagai hantu yang mendatangi makhluk-makhluk hidup. Khayalan-khayalan seperti itu tidak pernah muncul dalam kenyataan-kenyataan hidup manusia. Selain itu, suatu masyarakat yang hidup dengan dongeng-dongeng dan legenda-legenda, terus berlanjut melakukan hal demikian, mereka tidak akan pernah memiliki peluang untuk mengenali juru selamat mereka tatkala dia datang.
Jika Yesus memang benar Anak Tuhan, sebagaimana yang dikehendaki oleh orang-orang Kristen agar kami percaya, maka tentu beliau akan kembali dengan keagungan, menumpukan kedua tangan beliau pada pundak malaikatmalaikat nyata. Namun, jika hal ini sekedar suatu khayalan romantis dari harapan-harapan dan aspirasi-aspirasi Kristen, maka peristiwa tersebut tidak akan pernah terjadi. Tidak akan pernah dunia menyaksikan peristiwa aneh ini, yakni beberapa tuhan turun dari langit/sorga dalam bentuk manusia beriringan dengan sebuah pasukan malaikat yang mendukungnya dan menyanyikan lagu-lagunya.
Pemikiran ini sangat menjijikkan bagi logika manusia dan hati nurani manusia. Ini merupakan kisah dongeng paling ngawur yang pemah dikarang untuk menidurkan kemampuan-kemampuan manusia. Di sisi lain, jika pemahaman Ahmadiyah tentang Yesus Kristus diterima, hal itu akan menggantikan skenario fantastik tersebut dengan sesuatu yang tidak hanya diterima oleh pemahaman manusia, tetapi juga secara kuat didukung oleh seluruh sejarah agama umat manusia. Dalam kasus tersebut kami pun menunggu-nunggu seorang juru selamat yang tidak berbeda dari Kristus yang telah datang sebelumnya. Kami menunggu seorang manusia rendah hati, yang lahir dari keturunanketurunan rendah hati seperti Yesus Kristus yang telah datang sebelumnya, yang akan memulai tugasnya dalam gaya yang sama seperti yang pernah Yesus lakukan. Dia akan berasal dari suatu umat beragama yang menyerupai orang-orang Yahudi di Judea, dalam hal sikap-sikap dan kondisikondisi mereka. Mereka tidak hanya akan menolak serta memungkiri penda'waannya sebagai Pembaharu Yang Dijanjikan, yang mereka tunggu-tunggu sebagai juru selamat mereka dari Tuhan, tetapi juga akan menggunakan segenap kekuatan mereka untuk membinasakannya. Dia akan menghidupkan kembali seluruh kehidupan Kristus dan akan diperlakukan dengan penghinaan, kebencian dan keangkuhan yang sama Dia akan mengalami penderitaan sekali lagi, bukan di tangan umatnya, melainkan di tangan kekuatan-kekuatan musuh mirip seperti yang telah menentang Yesus sebelumnya. Dia juga akan mengalami penderitaan di tangan kekuatan kerajaan besar asing yang di bawah kekuasaannya dia akan dilahirkan di tengah-tengah rakyat yang terjajah.
P.D.Ouspensky, seorang penulis Rusia temama di permulaan abad keduapuluh, menuliskan tentang kedatangan kembali Yesus Kristus dalam pandangan yang sangat mirip:
Ini sama sekali bukanlah pemikiran baru bahwa Kristus, jika dilahirkan ke bumi di kemudian hari, bukan hanya tidak akan dapat menjadi pemimpin Gereja Kristen, tetapi mungkin bahkan tidak akan punya kaitan dengan itu, dan pada periodeperiode gemilang kehebatan serta kekuatan Gereja dia sudah pasti akan dinyatakan sebagai seorang yang menyimpang dari agama dan akan dibakar di tempat pembakaran. Bahkan walau di masa-masa kita yang lebih memperoleh penerangan/petunjuk, ketika Gereja-gereja Kristen, jika mereka belum kehilangan ciri-ciri anti-Kristen mereka, bagaimana pun juga telah mulai menyembunyikannya, Kristus akan dapat hidup tanpa mengalami penganiayaan dari "para juru tulis dan Farisi" mungkin hanya di tempat tertentu di suatu pertapaan/tempat-terpencil Rusia. 1
Ini hanyalah proses nyata yang dalamnya para utusan dan pembaharu Samawi dibangkitkan. Apa pun konsep lain di luar itu adalah dusta, palsu, dan tidak bermakna.
Memang selalu terjadi bahwa pada waktu terpenuhinya kabar ghaib tentang kedatangan pembaharu-pembaharu Samawi, yang untuk keselamatan mereka para pembaharu itu telah diutus, umat itu gagal mengenalinya. Pada periode sejarah itu masyarakat tersebut telah merubah gambaran tentang pembaharu mereka dari kenyataan menjadi khayalan. Mereka mulai menanti-nanti suatu khayalan untuk tampil dan muncul secara zahir, sementara apa yang terjadi hanyalah suatu pengulangan kembali sejarah agama seperti yang telah terjadi tanpa kecuali sejak masa pembaharu Ilahi pertama. Para pembaharu senantiasa tampil sebagai manusia rendah hati yang dilahirkan dari ibu-ibu manusia dan selama hidup mereka selalu diperlakukan sebagai manusia. Jauh sesudah kematian merekalah proses pendewaan mereka bermula. Dalam kondisi demikian, penerimaan yang baik terhadap mereka pada saat kedatangan mereka yang kedua kalinya menjadi tidak mungkin.
Ketika umat beragama seperti itu dihadapkan pada ke-nyataan-kenyataan para pembaharu Samawi, yang selamanya tampil sebagai manusia biasa yang lemah, mereka langsung menolaknya. Ketika anda menanti-nanti kedatangan seorang peri (makhluk khayalan) atau hantu untuk menjelma secara zahir, bagaimana mungkin anda dapat menerima kedatangan seorang manusia biasa? Itulah sebabnya mengapa dunia gagal menyaksikan dan mengenali kedatangan Yesus Kristus yang kedua kalinya, yang temyata hal itu telah terjadi.
Mungkin ini suatu penda' waan berlebihan yang tampaknya mudah ditolak oleh hampir seluruh pembaca. Bagaimana mungkin Yesus telah datang dan pergi tanpa [sempat] dicermati secara sungguh-sungguh oleh dunia? Bagaimana mungkin beliau telah pergi tanpa dipedulikan oleh seluruh dunia Kristen dan Islam? Zaman-zaman modern telah menyaksikan banyak penda'wa demikian yang bahkan telah menciptakan kegemparan-kegemparan dan badai topan di banyak kawasan kecil, tetapi kemana gerangan mereka kini?
Ini adalah suatu zaman ketika di banyak negara, sektesekte tumbuh seperti jamur, dan pendawaan-pendawaan aneh bahwa Yesus telah datang atau telah mengutus pembuka jalan baginya, telah dilakukan secara sporadis. Pernyataan ini mungkin hanya salah satu di antaranya. Mengapa seorang yang berpikiran serius harus menghabiskan waktunya untuk merenungkan hal ini? Secara pasti, keraguan-keraguan serius akan timbul dan suatu dilema pelik pasti akan dihadapi. Kami mohon perhatian pembaca untuk sudi membayangkan situasi itu bila Kristus benar-benar datang kembali. Apakah kedatangannya kembali hanyalah suatu khayalan atau dapatkah benar-benar beliau sendiri datang kembali ke dunia atau melalui pengganti? Inilah sebuah pertanyaan yang harus dipecahkan sebelum kita dapat mencoba menjawab berbagai keraguan yang telah dipaparkan di atas.
Apakah dunia, Kristen maupun Islam, benar-benar berada dalam kondisi pemikiran yang secara psikologis siap menerima kedatangan Yesus kedua kalinya? Jika ya, dalam bentuk apa dan dengan cara bagaimana? Jika kita memandang hal ini dari sudut pandang umat Islam dan Kristen keduanya, Yesus, jika beliau memang akan kembali, akan datang dengan keagungan sedemikian rupa serta dengan tanda-tanda begitu jelas, turun dari langit di siang hari bolong dengan para malaikat yang memapah beliau, maka hal itu menjadi tidak mungkin bagi orang yang paling ragu untuk menolak menerima beliau.
Sedihnya, hanya Yesus versi khayalan sajalah yang dapat diterima oleh dunia zaman sekarang. Yaitu seorang Yesus yang tidak pemah datang sebelumnya di seluruh sejarah umat manusia. Jika sejarah agama diperhatikan secara sungguh-sungguh, orang akan menemukan sejumlah contoh mengenai pendiri-pendiri agama mana saja dan para utusan Samawi mana saja yang diriwayatkan telah naik ke langit dengan tubuh kasar mereka. Penda'waan-penda'waan ini begitu banyak dan tersebar luas sedemikian rupa sehingga tampaknya hal itu merupakan suatu gaya universal umat manusia untuk mengarang kisah-kisah semacam itu dalam rangka mengangkat derajat dan menjadikan para pemimpin agama mereka sebagai manusia luar biasa. Pertanyaannya adalah, bagaimana kita dapat menyangkal segenap riwayat ini yang telah diterima dan dipercayai mungkin oleh milyaran umat manusia di dunia zaman sekarang? Umat Kristen dan Islam saja yang mempercayai hal ini dan beberapa hal aneh serupa lainnya, sudah melebihi dua milyar. Jadi, seorang pembaca dapat mempertanyakan, apa hak kami atau siapa pun di dunia ini, untuk menolak seluruh kepercayaan semacam itu sebagai sesuatu yang tidak nyata dan berupa khayalan? Kami setuju bahwa menguji hal tersebut dari sudut ini akan menuntut suatu usaha yang keras untuk menolak penda'waan-penda'waan semacam itu, sebab tidak didukung oleh kitab-kitab suci dari agama-agama tersebut, yang dianut oleh mereka. Sekali seseorang sampai pada penafsiran alternatif dan mungkin, yang pelik ini, hal itu hanya akan berakhir pada selera kesukaan dan pilihan. Akhimya hal itu menjadi permainan setiap orang untuk menafsirkan kitab-kitab suci atau sejarah agama yang diriwayatkan sebagai sesuatu yang hakiki atau kiasan. Untuk melangkah ke dalam kubangan penjelasan-penjelasan yang penuh pertentangan ini tidak akan menghasilkan apa-apa. Namun, hanya ada satu jalan keluar dari upaya yang sukar ini, yang dapat kami tunjukkan kepada para pembaca dan mengajak mereka untuk mengikuti atau menolaknya sesuai kehendak mereka.
Demi untuk argumentasi, andaikan kita menerima segenap penda'waan tentang para pemimpin agama yang [diriwayatkan] telah naik ke langit dan menerimanya begitu saja. Jika kasus Yesus Kristus yang diriwayatkan naik itu disikapi dalam pengertian yang selintas sedangkan kedatangan beliau yang kedua kali diartikan secara hakiki dan nyata, maka tidak ada alasan mengapa kita harus menolak kasus-kasus serupa lainnya di dunia. Mengapa memberikan pengecualian pada Elia (Ilyas), Raja Salim, Imam ke-12 golongan Syiah dalam Islam, kenaikan dewa-dewa Hindu, atau orang-orang suci lain dan apa-apa yang disebut sebagai penjelmaan-penjelmaan Tuhan yang serupa? Oleh karena itu, lebih aman untuk menghindari masuk ke dalam perdebatan-perdebatan yang tidak produktif dan sia-sia seperti itu. dengan orang-orang yang menganut kepercayaankepercayaan demikian. Seseorang dapat menanyakan kepada segenap orang yang mudah mempercayai khayalan seperti itu, jika mereka dapat menunjukkan satu saja kedatangan kembali, secara pribadi, dari antara orang-orang yang diriwayatkan telah naik ke langit yang jauh. Dapatkah segenap sejarah manusia menampilkan satu contoh saja tentang kembalinya seseorang dengan tubuh kasar ke dunia ini, yang telah diriwayatkan naik ke langit dengan tubuh kasamya? Tunjukkan kepada kami jika memang itu ada.
Memperhatikan tidak adanya sama sekali pemenuhan secara harfiah penda'waan-penda'waan semacam itu, orang dihadapkan pada dua pilihan: menolak penda'waan-penda'waan seperti itu sebagai suatu penipuan atau menerimanya dalam makna kiasan, seperti yang dilakukan Yesus dalam kasus kedatangan Eliya/llyas yang kedua kalinya. Dari hal ini jelas bahwa orang-orang yang menantinanti kedatangan Yesus secara harfiah dari langit telah menciptakan suatu penghalang antara diri mereka sendiri dengan realita Yesus. Jika memang Yesus datang kembali, beliau akan datang hanya sebagai manusia biasa seperti segenap pembaharu Samawi yang dinanti-nantikan sebelum beliau. Jika beliau tampil sebagai seorang manusia biasa yang rendah hati, dilahirkan di sebuah negeri yang serupa dengan Judea di Palestina dan mendapat mandat memainkan peran sama seperti yang beliau mainkan pada kedatangan pertama beliau, apakah orang-orang di negeri itu akan memperlakukan beliau berbeda dari perlakuan yang beliau terima sebelumnya?
Almasih yang Dijanjikan
Begitulah kasus kedatangan kembali Almasih yang kami percayai. Hal itu terjadi sekitar seratus tahun lalu, seorang hamba Allah yang rendah hati, bernama Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian, telah diberitahukan oleh Allah bahwa Yesus dari Nazaret, putra Maryam, yang kedatangannya kembali secara harfiah dinanti-nantikan baik oleh umat Kristen maupun umat Islam bersama-sama, adalah seorang nabi Allah yang istimewa, yang telah wafat seperti layaknya nabi-nabi Allah lain. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menda'wakan bahwa Yesus tidak hidup dengan tubuh kasar beliau, dan tidak pula beliau diangkat ke langit tertentu dengan tubuh kasar beliau untuk menunggu masa keberangkatan beliau yang kedua kalinya ke bumi. Beliau telah wafat seperti segenap nabi Allah lainnya, dan beliau tidak lebih dari seorang nabi. Kedatangan Yesus Kristus untuk yang kedua kalinya suatu kepercayaan yang umum terdapat di kalangan umat Kristen dan Islam telah diberitahukan kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad akan terjadi secara ruhani dan bukan secara harfiah. Dengan demikian, beliau telah diberitahukan bahwa Allah telah mengangkat beliau untuk memenuhi nubuatan tersebut.
Mirza-Ghulam Ahmad berasal dari sebuah keluarga terhormat di Punjab. Upaya-upaya yang dilakukan oleh keluarga beliau umumnya bertujuan membangun keberuntungan dan kehormatan mereka, tetapi beliau menjauhkan diri beliau sendiri dari upaya-upaya duniawi dan menghabiskan hampir seluruh waktu beliau dalam beribadah kepada Allah dan menelaah agama. Beliau adalah seorang yang sama sekali hampir tidak terpaut dengan dunia, sangat sedikit dikenal di kota kecil kelahirannya sendiri. Kemudian secara perlahan beliau tampil di cakrawala agama di India sebagai seorang pembela dan pahlawan bagi kepentingan Islam. Beliau jadi dikenal sebagai seorang suci dengan kemashuran sedemikian rupa sehingga beliau tidak hanya meraih penghormatan dari kalangan umat Islam saja tetapi juga dari para pengikut agama agama lain. Orang-orang mulai menyaksikan dalam pribadi beliau seorang yang dekat dengan Allah, yang doa-doanya dikabulkan, ketulusannya yang mendalam terhadap umat manusia serta terhadap penderitaan orang-orang yang kesemuanya itu tidak perlu dipertanyakan lagi.
Islam, pada masa itu di India, malangnya berada dalam kondisi yang sangat patut dikasihani. Islam menjadi sasaran para misionaris Kristen, yang berdasarkan dengan kebijakankebijakan Kerajaan Inggris, melancarkan suatu kampanye yang sangat tajam tidak hanya terhadap ajaran-ajaran Islam tetapi juga terhadap Nabi Suci Islam. Demikian pula, di kalangan Hindu, agama terbesar di India, gerakan-gerakan ekstrim yang ambisius bermunculan dengan dua rencana besar: menghidupkan kembali budaya serta tradisi Hindu, dan menghapuskan Islam serta umat Islam dari India, menggambarkan umat Islam sebagai pendatang-pendatang asing yang tidak memiliki hak untuk berakar di negeri itu. Yang paling agresif di antaranya adalah Gerakan Arya Samaj, yang didirikan pada tahun 1875 oleh Pandit Swami Dyanand Sarsuti (1824-1883). Mungkin gerakan ini selanjutnya telah memotivasi Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad untuk memulai penelitian luas mengenai perbandingan agama-agama, guna membela Islam.
Penelaahan beliau itu lebih lanjut memperkuat keimanan beliau terhadap keunggulan ajaran-ajaran Islam. Beliau sangat terkesan pada pendekatan istimewa yang dilakukan Alquran terhadap permasalahan-permasalahan umat manusia. Alquran, beliau dapati, setelah memaparkan sebuah haluan sikap manusia, tidak berhenti. pada perintah secara sewenang-wenang, melainkan berkelanjutan membangun argumentasi-argumentasi kuat dan logis yang didukung oleh bukti bahwa haluan yang dipaparkan itu merupakan pilihan tepat dalam konteks yang dikemukakan.
Penelaahan-penelaahan beliau pada akhirnya membuat beliau mampu memenangkan kepentingan Islam, yang pada waktu itu praktis tidak berdaya. Demikianlah beliau melakukan hal-hal yang mendesak untuk membela Islam di India pada masa itu. Beliau memulai kehidupan terbuka beliau dengan menyelenggarakan dialog-dialog dan perdebatan-perdebatan dalam skala kecil yang secara bertahap berkembang dalam lingkup yang lebih luas. Ketenaran beliau sebagai pembela kepentingan Islam yang sangat tangkas dan hebat mulai menyebar jauh dan luas.
Dalam masa itulah beliau mulai menulis salah satu karya tulis agama terbesar yang pernah beliau buat. Buku itu, Barahiin Ahmadiyyah,direncanakan untuk diterbitkan dalam 50 jilid, tetapi beliau hanya dapat menerbitkan lima jilid pertama, sementara peristiwa-peristiwa yang menggemparkan telah menyelimuti beliau dan sejak saat itu tidak lagi mungkin bagi beliau untuk melakukan tugas ilmiah guna menyelesaikannya. Walau demikian, beliau sesudah itu telah menulis banyak buku lain dalam menanggapi kebutuhan-kebutuhan zaman. Buku-buku beliau meliputi hampir seluruh permasalahan yang pada mulanya memang telah beliau niatkan untuk digarap dan lebih dari itu. Pada kenyataannya beliau melakukan lebih dari pemenuhan janji beliau [mengenai Barahiin Ahmadiyyah], walaupun bukan dalam judul tersebut. Sungguh menakjubkan, bagaimana beliau telah mampu menghasilkan buku-buku yang begitu banyak seorang diri, tanpa banyak dukungan tenaga pembantu. Buku-buku, selebaran-selebaran dan risalah yang telah beliau tulis, mencapai jumlah sekitar seratus sepuluh buah.
Bukan hanya karya-karya tulis beliau saja yang telah membuat beliau dikenal luas di seluruh anak benua [India], tetapi juga nilai-nilai keruhanian beliau telah memainkan peran vital dalam memberikan ketenaran dan kehormatan yang sangat luas bagi beliau:
Dalam kegemerlapan reputasi beliau yang melonjak dan meluas itulah beliau diberikan mandat oleh Allah untuk memikul tanggung-jawab besar sebagai pembaharu di akhir zaman yang telah dinantikan dan ditunggu-tunggu oleh hampir seluruh agama di dunia. Dari sudut pandang umat Islam beliau adalah Al-Mahdi, pembaharu yang memperoleh petunjuk Ilahi. Dari sudut pandang umat Kristen dan Islam, beliau diangkat ke derajat Almasih Yang Dijanjikan (Al Masihil Mau'ud) untuk memenuhi nubuatan kedatangan kembali Yesus Kristus. Akan tetapi, pemberian mandat ini telah mengorbankan seluruh kemashuran dan ketenaran yang telah beliau peroleh sebelumnya. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, pembaharu ruhani yang telah ditunjuk oleh Allah bagi zaman ini, telah ditinggalkan dengan segera dan telah ditolak tidak hanya oleh para pengikut agama-agama lain tetapi lebih dahsyat lagi ditolak oleh umat Islam India sendiri, umat yang untuk merekalah beliau telah melakukan pembelaan dengan sangat tangkas dan gigih.
Hal itu praktis merupakan suatu kelahiran ruhani baru bagi beliau. Sebagaimana beliau telah datang seorang diri ke dunia ini, demikianlah beliau telah memulai suatu hidup baru sebagai seorang manusia sebatang kara dalam dunia agama, dan praktis telah ditinggalkan oleh segenap pihak di sekeliling beliau. Namun, Allah tidak meninggalkan beliau. Kepada beliau telah berkali-kali diyakinkan mengenai bantuan dan dukungan Allah melalui berbagai wahyu yang beliau terima selama masa penentangan yang gencar itu. Pada kesempatan lain telah diwahyukan kepada beliau:
Seorang pemberi ingat telah datang ke dunia, tetapi dunia tidak menerimanya, namun Tuhan akan menerimanya dan akan membuktikan kebenarannya melalui Tanda-tanda yang luar biasa.
Aku akan menyampaikan tabligh/amanat engkau ke seluruh pelosok dunia.
Terdapat beberapa wahyu permulaan yang telah membuat beliau tabah selama masa kesedihan yang perih dan penolakan yang beliau alami di tangan para penentang beliau. Lebih dari seratus tahun telah berlalu sejak saat itu, dan gambaran yang muncul secara perlahan namun mantap telah sepenuhnya mendukung penda'waan-penda'waan dan nubuatan-nubuatan beliau serta kebenaran wahyu-wahyu beliau.
Dari seorang diri itu telah tumbuh menjadi sepuluh juta orang di seluruh dunia di 134 negara yang tersebar di lima benua.2 Tabligh/ ajaran beliau telah sampai di pelosokpelosok dunia, dari belahan barat yang terjauh hingga ke belahan timur yang paling jauh. Beliau telah diterima sebagai Imam Mahdi Yang Dijanjikan dan Almasih Yang Dijanjikan (Al Masihil Mau'ud) pada kedatangan yang kedua di Amerika, Eropa, Afrika, Asia dan bahkan di kepulauan-kepulauan jauh di Pasifik Tenggara, seperti Fiji, Tuvalu, Kepulauan Solomon dan sebagainya. Di samping itu, para pengikut beliau dapat dengan tepat digambarkan sebagai sebuah kolam kecil yang tidak berarti dibandingkan dengan samudra besar dunia Kristen.
Keberhasilan-keberhasilan Jemaat Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad akan membutuhkan suatu tempat yang sangat luas di ruang kecil yang tersedia di sini, tetapi sangat penting dicatat bahwa tidak ada gerakan agama lainnya di zaman modern ini yang telah mengalami kemajuan dan menyebar begitu cepat dengan suatu langkah yang demikian mantap. Ini bukanlah sebuah sekte [sempalan], dan bukan pula ini suatu trend gila-gilaan yang populer. Ini adalah suatu amanat serius suatu tugas pendakian yang menuntut upaya dan disiplin besar dari pihak-pihak yang gigih mengikutinya.
Mereka yang mengikutinya, melakukan hal demikian dengan menerima banyak tanggung-jawab besar yang akan dilimpahkan kepada mereka sepanjang hidup mereka. Jemaat ini sangat disiplin seperti kelompok Essen masa awal. Menerima penda'waan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Almasih Yang Dijanjikan (Al Masihil Mau'ud) bukanlah bersenang-senang dengan kisah-kisah manis, melainkan merupakan suatu janji seumur hidup. Mereka yang telah baiat bergabung masuk ke dalam Jemaat ini harus menolak seluruh kesenangan sia-sia dalam hidup mereka, bukan dalam gaya [hidup] para fakir pertapa dan orang-orang yang mengasingkan diri, tetapi dengan suatu pendirian yang kuat, keteguhan janji, kepuasan dan sepenuh hati sehingga membuat mereka mampu melakukan pengorbanan serta gigih melakukan pengkhidmatan terhadap beliau hingga derajat yang paling tinggi. Beliau telah membentuk suatu Jemaat yang tersebar di seluruh dunia, yang tidak ada bandingannya dalam hal pengorbanan harta. Seluruh anggota yang berpenghasilan dalam Jemaat ini berjanji sendiri untuk membayar 1/16 penghasilan mereka untuk tujuan mulia. Semangat pengorbanan sukarela dan sejumlah besar pekerjaan gotong-royong yang dilakukan di seluruh dunia, telah membuat takjub. Namun, semua ini dilaksanakan tanpa adanya paksaan sedikitpun dalam bentuk apa pun. Mereka yang mampu ikut serta dalam gotongroyong dan pengorbanan-pengorbanan harta menganggap diri mereka beruntung dapat melakukannya.
Inilah suatu golongan yang sepenuhnya berdiri sendiri dalam hal-hal keuangannya. Sistim universal sumbangan sukarela ini telah dilaksanakan selama seratus tahun dengan ketulusan yang luar biasa serta akhlak yang jujur. Di situlah terletak rahasia keberhasilan Jemaat ini menegakkan kemandiriannya dari pengaruh-pengaruh luar selama lebih satu abad. Itu, hanyalah satu sisi dari pengamatan yang ada. Menyimak kualitas para pengikut beliau dari sudut lain, [juga] menampilkan gambaran-gambaran yang tidak kurang menariknya. Ini adalah suatu Jemaat yang berdiri tegak di atas nilai-nilai moralnya, kehidupan bersama yang penuh damai, kecintaan antar sesama dan rasa hormat mendalam terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Ini adalah suatu golongan agama yang membuat dunia sangat kagum terhadap sikapnya yang menghormati hukum dan rasa hormatnya terhadap hubungan-hubungan manusia yang sopan tanpa membeda-bedakan agama, warna kulit, atau pun kepercayaan.
Bagi seorang pembaca hal ini dapat saja tampak bahwa kami telah menyimpang ke jalur yang tidak ada kaitannya dengan pokok permasalahan yang kami bahas. Ijinkanlah kami dengan sangat hormat menunjukkan bahwa seorang pengamat yang demikian itu telah kehilangan fokus. Keterkaitan pembahasan ini dapat dipahami lebih baik apabila dipandang dari sudut pengamatan yang baik tentang Yesus Kristus, yakni bahwa sebuah pohon dikenali melalui buahnya.3
Jika saat ini ada orang yang tertarik untuk menentukan apakah penda'waan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dapat dipercaya, inilah kriteria yang paling baik dan paling dapat dipegang. Melalui kriteria ini dapat ditentukan apakah beliau memang benar Almasih Yang Dijanjikan (Al Masihil Mau'ud) yang kedatangannya telah dinubuatkan bukan hanya oleh Yesus Kristus sendiri melainkan juga oleh Nabi Suci Islam. Menyelidiki tentang para pengikut bagaimana yang telah beliau ciptakan dan apa yang telah dilakukan oleh jangka waktu seabad ini pada mereka, akan merupakan suatu upaya yang sangat bermanfaat. Pertanyaan juga akan timbul, apakah mereka telah diperlakukan oleh zaman dengan sikap serupa seperti yang dialami para pengikut Yesus Kristus di abad pertama Kristen? Kemudian juga pertanyaan pasti akan muncul, yakni apa sikap Allah terhadap Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dalam kaitan dengan begitu banyaknya percobaan untuk membinasakan dan menghancurkan beliau serta Jemaat beliau? Apakah sikap Allah selama ini mendukung, ataukah menentang golongan yang diburu-buru seperti itu? Jika seperti orang-orang Kristen masa awal, apakah para pengikut Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad juga memperolah dukungan yang sama dari Allah terhadap segenap rintangan? Apabila, kapan saja mereka digilas melalui penganiayaan-penganiayaan, bukannya mereka hancur lebur justru mereka tampil di belahan lain dengan lebih besar dari sebelumnya dan lebih kuat serta lebih dihormati, maka sudah tentu penda' waan seorang penda' wa seperti itu tidak dapat diabaikan dan diremehkan. Itu bukanlah penda'waan muluk seorang manusia gila, atau sebuah jaring laba-laba yang dirajut oleh khayalan seseorang yang tengah mimpi di siang bolong. Ahmadiyah telah menjadi suatu kenyataan yang harus dihadapi dengan sungguh-sungguh dalam suatu cakrawala yang lebih luas daripada apa yang telah dibentuk oleh Kristen pada penghujung abad pertamanya.
Inilah kasus seorang Almasih yang merupakan kenyataan sejarah dan bukan suatu hasil khayalan, dan ini sekali lagi merupakan kasus seorang Almasih yang kedatangannya kedua kali begitu nyata seperti nyatanya kedatangan beliau untuk yang pertama kali sebagai seorang imam yang memperoleh mandat dari Tuhan. Semuanya ini tergantung pada umat manusia di zaman sekarang untuk memilih hidup terus-menerus dalam dunia legenda-legenda dan khayalan serta tetap saja menanti-nanti para pembaharu yang dijanjikan oleh agama-agama dan kepercayaankepercayaan mereka, atau menerima kenyataan-kenyataan yang sebenarnya dalam hidup ini. Satu hal yang harus kita sepakati, yakni banyak tokoh agama yang telah diangkat naik dari derajat-derajat manusia biasa ke derajat-derajat para dewa. Sering kali para pemimpin agama dibayangkan telah naik ke langit menunggu di suatu tempat di angkasa lepas untuk kedatangan mereka yang kedua kali ke planet Bumi. Tidak ada alasan mengapa orang harus menerima suatu penda'waan seperti itu dan menolak yang lain, dikarenakan itu semua hanyalah penda'waan-penda'waan saja, tanpa bukti positif dan ilmiah untuk mendukung kebenarannya. Oleh karena itu tidak ada pilihan kecuali menerima semua itu atau menolaknya secara keseluruhan. Inilah satu-satunya yang merupakan sikap jujur dan arah yang benar bagi suatu tindakan. Satu hal yang pasti, yakni sekali mereka pergi meninggalkan keberadaan mereka di bumi ini, tidak peduli dalam bentuk apa para pengikut mereka mempercayai kepergian mereka, tidak pernah di seluruh sejarah umat manusia ada seorang dari antara mereka yang telah datang kembali ke Bumi. Sekali lagi, hal ini sangat pasti bahwa segenap pemimpin suci dan ruhani seperti itu, yang telah diangkat naik ke dalam derajat dewa-dewa atau sekutu Tuhan, telah memulai hidup mereka seperti manusia biasa dan menjalani hidup mereka sampai mati dalam kehidupan seorang manusia. Para pengikut merekalah yang telah merubah mereka menjadi dewa-dewa. Namun, ingat, tidak ada satu pun di antara mereka yang pemah mempertunjukkan peran mereka dalam mengelola alam. Selamanya hanya ada Satu Tangan yang tampak mengelola hukum-hukum alam. Cermin langit dan hukum-hukum alam pada setiap tingkatan, memantulkan wajah Tuhan Yang Esa dan Tuhan Tunggal semata. Alquran Suci mengatakan:  

 

Dan mereka itu berkata, "Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil seorang anak." Sesungguhnya kamu telah mengucapkan sesuatu yang sangat mengerikan. Hampir-hampir seluruh langit pecah oleh karenanya, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung rebah berkeping-keping. Disebabkan mereka menyatakar bahwa Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak Padahal tidaklah layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil bagi-Nya Sendiri seorang anak. (Maryam:89-93)
Kesimpulan
Sejauh yang berkaitan dengan penyelidikan ini, kami harap kami telah melakukan keadilan yang cukup untuk itu. Namun, sebelum kita menghentikan kasus ini, di sini kami ingin membuat satu permohonan penuh kasih-sayang kepada dunia Kristen untuk turun dari menara gading rekayasa kepercayaan mereka dan turun pada kenyataan-kenyataan yang sebenamya dalam hidup.
Yesus Kristus merupakan seorang manusia sempuma dalam konteks zaman beliau, tetapi tidak lebih dari seorang manusia. Beliau mencapai puncak ketinggian yang telah ditakdirkan bagi beliau untuk dicapai sebagai seorang utusan khusus Tuhan yang dijuluki Almasih. Hal ini membuat beliau unik di antara segenap nabi sejak zaman Musa hingga masa kedatangan beliau.
Setiap nabi memang ditugaskan untuk suatu pekerjaan yang sulit. Mereka harus menciptakan perbaikan di kalangan orang-orang yang telah berubah menjadi bejad. Dalam kasus Yesus, tugas itu menjadi lebih sulit sebab beliau tidak hanya harus berperang melawan kebejadan-kebejadan yang umum di kalangan masyarakat, tetapi beliau juga harus menciptakan suatu perubahan yang dramatis dan revolusioner pada perilaku umat Yahudi.
Seperti yang terjadi dalam kasus para pengikut setiap agama, beriringan dengan peralihan zaman, mereka secara bertahap menyimpang dari kebenaran dan mulai berkelana di belantara dosa. Demikianlah yang terjadi pada kasus umat Yahudi. Pada masa kedatangan Yesus, mereka telah menjadi orang yang mati secara ruhani. Air kehidupan ruhani telah mengering, meninggalkan kalbu-kalbu membatu yang telah mati. Tugas yang telah ditetapkan bagi Yesus adalah merubah mereka kembali menjadi kalbu-kalbu insan yang berdenyut hidup dan menciptakan dari mereka sumbersumber mata air kebaikan umat manusia. Inilah mukjizat yang telah dibuat oleh Yesus dan di situlah terletak kebesaran beliau.
Sekarang dunia Islam dan Kristen bersama-sama menunggu kedatangan Yesus Kristus yang kedua kalinya, mereka seharusnya tidak lupa bahwa tokoh Yesus yang telah ditakdirkan untuk datang harus mutlak menyerupai Yesus dalam hal sifat dan jenis penugasan. Demikianlah, sesuai nubuatan nabi Islam, Hadhrat Muhammad, Yesus yang satu ini akan tampil dalam kedatangannya yang kedua kali bukanlah di kalangan dunia Kristen, melainkan di dunia Islam. Namun, mukjizat agung yang akan dia bawa adalah yang sama dengan itu. Tetapi kali ini terhadap kalbu-kalbu umat Islam di akhir zaman, yang menjadi tugasnya untuk diubah. Pemahaman tentang kedatangannya yang kedua kali seperti ini didukung sepenuhnya oleh nubuatan-nubuatan lain dari Rasulullah. Beliau meramalkan kondisi umat Islam, di akhir zaman, akan menyerupai umat Yahudi di masa keruntuhan mereka, seperti sebuah sepatu yang persis dengan pasangannya.
Oleh karena itu, jika penyakitnya akan sama, maka obatnya pun harus sama. Almasih akan kembali ke dunia dalam corak rendah hati yang sama, tidak dalam wujud [yang sama] tetapi dalam semangat dan sifat yang sama, dan inilah yang terjadi dan terpenuhi. Tokoh-tokoh Samawi dan revolusioner seperti itu selalu lahir sebagai manusia-manusia rendah hati dan biasa, serta menjalani hidup rendah hati. Mereka secara ruhani berkunjung kembali ke dunia dalam corak yang sama dan kembali diperlakukan dengan sikap sama yang tidak berperasaan, penuh prasangka, dan permusuhan yang fanatik. Mereka tidak pernah dengan mudah dapat dikenali sebagai utusan-utusan sejati bagi pihak-pihak yang telah menjanjikan kedatangan mereka kembali.
Apa yang telah terjadi pada Kristus di masa kemunculan beliau yang pertama dahulu di tangan-tangan orang Yahudi, akan kembali terjadi pada diri beliau, tetapi kali ini di tangantangan orang Islam dan Kristen yang menanti-nanti kedatangan beliau. Penantian-penantian yang keliru dan tidak nyata tentang bagaimana cara beliau datang kembali ke dunia, tujuan-tujuan sama berbau khayalan yang diharapkan beliau capai, pandangan-pandangan tidak realistis tentang penampilan beliau dan keberhasilan-keberhasilan beliau di dunia seperti yang dulu dimainkan oleh umat Yahudi pada masa Yesus Kristus, akan diulangi kembali oleh umat Islam pada masa kedatangannya yang kedua. Dan dalam bentuk demikian sejarah mengulangi kembali dirinya sendiri.
Sekarang, dengan melihat ke belakang, seseorang berada pada posisi yang lebih baik untuk memahami kegagalan orang-orang Yahudi dalam mengenali Almasih mereka. Kita dengan mudah dapat memahami kesulitan mereka dan mengambil pelajaran dari tragedi mereka. Pemahaman mereka secara harfiah terhadap Kitab Suci telah menyesatkan mereka. Semua ini telah dibahas, tetapi untuk menguraikan masalah penting ini lebih dalam, kami sekali lagi merujuknya. Hal ini selalu terjadi dalam sejarah para pembaharu agama yang dinanti-nanti, yakni orang-orang yang menanti-nantikan mereka selalu gagal mengenali mereka sebab tanda-tanda pengenalan mereka telah salah dibaca dan salah dipahami. Kenyataan-kenyataan yang sebenamya, telah diubah menjadi khayalan, sedangkan kiasan-kiasan telah dipahami secara harfiah.
Kisah samalah yang akan terulang kembali pada masa kedatangan Almasih kedua kali, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian. Seperti kasus janji akan turunnya kembali Eliya/Ilyas dari langit sebagaimana dinanti-nantikan umat Yahudi di zaman Kristus, orang sekali lagi menantinantikan peristiwa turunnya dengan tubuh kasar dari langit, kali ini yaitu Almasih sendiri.
Dalam kasus orang-orang Yahudi, mereka saat itu menanti-nantikan kedatangan Almasih yang bersimbahkan kemuliaan dan yang akan mengantarkan mereka ke era kekuasaan serta kemenangan atas para penjajah mereka, orang-orang Romawi. Seluruh penantian itu telah buyar oleh Yesus dari Nazaret. Ketika beliau telah muncul akhirnya, beliau muncul jauh berbeda dari sosok kedatangan Almasih yang dinanti-nantikan, yang telah dianut dengan sepenuh hati oleh umat Yahudi sejak berabad-abad.
Secara mengejutkan, peristiwa-peristiwa sama telah terjadi dalam kaitan dengan kedatangan Kristus dalam wujud Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian. Peran yang dimainkan oleh para penentang beliau adalah sama, hanya nama-namanya saja yang berbeda. Kelompok utama umat Islam dan Kristen sama-sama memainkan peran Yahudi di masa Yesus. Keberatan-keberatan mereka juga sama. Logika penolakannya pun sama. Namun, Allah telah memperlakukan hamba yang rendah hati ini dengan tanda--tanda dukungan-Nya yang lebih besar dibandingkan dengan Yesus zaman awal, dan telah menolong beliau menyebarluaskan amanat/ajaran beliau jauh lebih cepat di negaranegara yang lebih banyak di seluruh benua di dunia. Ini adalah fakta-fakta yang memberikan kesaksian dengan sendirinya, tetapi hanya bagi mereka yang mendengar. Ini adalah fakta-fakta yang menjadi semakin jelas dan lebih jelas beriringan dengan berjalannya waktu, tetapi hanya bagi mereka yang mau memperhatikan.
Sekali lagi, ruh ajaran mesianisme/kealmasihan dalam konteks haluan-haluan umat Islam dan Kristen zaman sekarang tidaklah berbeda. Namun, hanya merekalah yang memahami, yaitu yang tidak menutup mata mereka.
Marilah kita, pada bagian akhir, mengingatkan umat Kristen dan Islam yang menanti-nanti kemunculan kembali Kristus selama sekian abad terakhir ini, dengan menggunakan kata-kata nubuatan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian, tokoh yang telah ditunjuk oleh Allah sebagai Almasih akhir zaman:
Ingatlah dengan baik, tidak ada seorang pun yang akan datang dari langit. Seluruh penentang saya yang hidup hari ini akan mati dan tidak ada di antara mereka yang akan pernah melihat Isa putra Maryam turun dari langit; kemudian anak-anak keturunan mereka yang tertinggal sesudah mereka, juga akan mati dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang akan pernah menyaksikan Isa putra Maryam turun dari langit. Dan kemudian generasi mereka yang ketiga juga akan mati dan mereka pun tidak akan menyaksikan putra Maryam turun. Kemudian Allah akan menimbulkan kekuatiran besar dalam pikiran-pikiran mereka dan mereka lalu akan berkata bahwa walaupun era keunggulan salib telah berlalu lama dan cara hidup telah berubah secara menyeluruh, tetap saja putra Maryam belum juga turun. Lalu, dalam kondisi cemas orang bijak di antara mereka akan meninggalkan kepercayaan ini, dan tiga abad sejak sekarang tidak akan berlalu ketika mereka yang menanti-nanti kedatangan Isa putra Maryam apakah mereka orang-orang Islam atau pun Kristen akan meninggalkan seluruhnya konsep ini.1 Jadi, anda boleh menunggu sampai suatu generasi
dilahirkan dan mereka juga akan menunggu sampai mereka menempuh jalan mereka dan suatu generasi baru akan mengambil alih. Suasana penantian akan terus berlanjut sampai akhir masa, tetapi Yesus dengan tubuh kasar tidak akan turun dari langit. Impian-impian kedatangan beliau secara nyata tidak akan pemah terwujudkan, tidak peduli berapa banyak orang yang menunggu kedatangan beliau kembali dengan penuh harapan. Mereka bahkan boleh membangun sebuah dinding ratapan bagi diri mereka sendiri seperti yang dilakukan umat Yahudi lebih dari tiga ribu tahun silam. Dan mereka boleh saja menghempas-hempaskan kepala mereka ke dinding itu. Namun, seperti yang telah terjadi pada kasus orang-orang Yahudi, demikian pulalah yang akan terjadi kembali. Mereka tidak akan menyaksikan mesias apa pun turun, walaupun mereka terus meratap dan sengsara, generasi demi generasi dan generasi. Penantianpenantian mereka terhadap Kristus di masa mendatang tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali kehampaan dan suatu kekosongan yang tidak akan pemah habis. Ini memang suatu harapan yang sama sekali suram.
Bagi orang-orang Kristen yang benar-benar menganggap Kristus sebagai anak Tuhan secara hakiki, izinkan kami mengakhiri pembahasan ini dengan kata-kata peringatan dari Alquran Suci, Kitab yang diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Suci Islam. Ayat-ayat ini memaparkan tujuan-tujuan kedatangan beliau:
 
:
 

Dia (Rasulullah) datang supaya memperingatkan mereka yang mengatakan, "Allah telah mengambil seorang anak laki-laki." Mereka tidak memiliki ilmu mengenainya, dan tidak pula nenek moyang mereka. Alangkah dahsyatnya bahaya perkataan yang keluar dari mulut mereka. Mereka tidak mengucapkan sesuatu selain dusta belaka (Al-Kahf. 5-6).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar