zwani.com
apa kabar kamu hari ini
salam hangat buat faithfredoom.org semoga bermanfaat bagi anda dan untuk non muslim ma’af bila ada kata-kata kurang berkenan Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu semoga allah swt membuka mata hati faithfreedom terhadap islam.
Image by Anime Myspace Comments
MyNiceProfile.com

Rabu, 27 Oktober 2010

Makna kata ”Aku”, ”Kami”, dan ”Allah” dalam Al-Qur’an

buat mbak Maria UCiek 



sumber. Rio Efendi Turipno

Seorang Mahasiswa Univeritas Negeri Manado (UNIMA) bertanya tentang apa makna kata ganti ”AKU”, KAMI, dan ALLAH dalam Al-Qur’an? Apakah Islam Tuhannya lebih dari satu?

Sebelum menjawabnya disini saya lampirkan beberapa Ayat Al-Qur’an yang memiliki keterkaitan dengan pertanyaan diatas.

كَلَّا إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِمَّا يَعْلَمُونَ فَلَا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ إِنَّا لَقَادِرُونَ  عَلَى أَنْ نُبَدِّلَ خَيْرًا مِنْهُمْ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ [سورة المعارج :39-41 ]
Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui (air mani). Maka Aku bersumpah dengan Tuhan yang memiliki timur dan barat, Sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa. Untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik dari mereka, dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan. (Qs. Al-Ma’aarij :39:41)
    إِنَّا نَحْنُ نزلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ [سورة الحجر: 9]
"Sesungguh-Nya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnyaKami benar-benar memeliharanya”. (QS. Al Hijr 15:9)

Ayat-ayat diatas memang seringkali digunakan oleh para missionaris dalam mencari kelemahan Islam. Dengan ayat tersebut mereka menyimpulkan bahwa Allah (Tuhan)nya umat Islam tidak Esa, melainkan jamak (banyak). Karena dalam Al-Qur’an Tuhannya umat Islam seringkali menggunakan kata ”Kami” untuk menunjukkan dirinya, yang memiliki arti jamak atau lebih dari satu.

Padahal tuduhan tersebut cukup membuktikan bahwa mereka sama sekali tidak memahami tentang tata bahasa Arab sedikit pun.

Makna Kata Kami
Dalam tata bahasa Arab, kata   نَحْنُ(nahnu) dengan dlamir نَا (na) pada beberapa ayat al-Qur’an diatas, dapat di gunakan untuk menujukkan makna:”lebih dari satu” atau ”satu, tapi menunjuk kepada keagungan dan kebesaran Allah”

Artinya disini ada 2 pendekatan makna terhadap kata  نَحْنُ, yakni:
1.     Sebagai mutakallim ma`a Ghoirihi (bermakna banyak atau sebagai kata ganti orang pertama jamak)
2.     Sebagai makna muadz-Dzom nafsah (yaitu makna untuk menyatakan kebesaran atas diri-Nya),

Nah untuk ayat-ayat dalam al-Qur’an kata nahnu yang digunakan untuk Allah bermakna muadz-Dzom nafsah (yaitu untuk menyatakan kebesaran atas diri-Nya), sebagai contoh pada ayat-ayat diatas:

1.     إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ   artinya “Kami ciptakan mereka” (hal ini bermakna Allah Maha Pencipta)
2.      نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ artinya “Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan" (maknanya menujukkan bahwa Allah Maha Kuasa dan tidak tertandingi).
3.      وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ artinya Kami benar-benar memeliharanya” (Ini menunjukkan bahwa Allah maha pemelihara)


Selain penjelasan diatas, kita juga dapat memahami bahwa, Allah menggunakan bentuk jamak dalam beberapa perbuatan-Nya yang di kisahkan dalam Al-Qur’an, karena tindakan tersebut secara proses Allah melibatkan makhluk lain, baik itu malaikat atau pun manusia, seperti contoh beberapa ayat dibawah ini:

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

”Dan tidak Kami mengutus Rasul sebelum kamu..” (Qs. Al-Furqan : 20.)

إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى

Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan...” (Qs. Al-Hujuraat : 13)

ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِنَّا

”...kemudian apabila Kami berikan kepadanya ni'mat dari Kami” (Qs. Az-Zumar : 49)

إِنَّا نَحْنُ نزلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
"Sesungguh-Nya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnyaKami benar-benar memeliharanya”. (QS. Al Hijr 15:9)

Dari beberapa ayat ini menunjukkan bahwa, dalam mengutus para Rasul dan menurunkan wahyu serta memberikan nikmat kepada manusia, secara proses hal tersebut melibatkan para malaikat sebagai pembantu Allah. Begitu pula dalam penciptaan manusia hal ini melibatkan manusia itu sendiri dan juga malaikat. Manusia disini berperan dalam mulai dari proses terjadinya pembuahan (bertemu antara sperma laki-laki dan sel telur), sementara malaikat Allah mewakilkannya untuk menyempurnakan proses penciptaan tersebut, hingga pada 40 hari yang ketiga Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh ke dalam jasad manusia dan mencatat empat ketetapan Allah dari Lauhil Mahfuzh, ketetapan rezki, amal perbuatan, usia dan nasibnya di akhirat.


Dengan demikian, maka ungkapan خَلَقْنَا (khalaqnaa) sangat tepat untuk menunjukkan bahwa dalam proses penciptaan manusia, Allah berkuasa untuk mewakilkan kepada malaikat-Nya. Itulah kekuasaan Allah.  Namun hal ini bukan berarti Allah tidak mampu berbuat sendiri, sehingga perlu mewakilkannya kepada malaikat. Justru ayat ini menunjukkan ke Maha Kuasaan Allah dalam melakukan segalah hal. Karena dalam menciptakan sesuatu Allah mampu menciptakan tanpa diwakilkan dan mampu pula menciptakan melalui perwakilan-Nya. Perhatikan bagaimana Allah menciptakan langit dan bumi. Dimana dalam penciptaan ini, Allah menciptannya tanpa perwakilan. Dan Sungguh Allah Maha Berkuasa dalam segala sesuatu.
  وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ
“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi….” (QS. Huud : 7)

Makna Kata ”Aku dan Tuhan”
فَلَا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ
Artinya: ”Maka Aku bersumpah dengan Tuhan yang memiliki timur dan barat” (Qs. Al-Ma’aarij :39:41)

Disini dapat dijelaskan bahwa kata ”Aku” pada ayat diatas menunjukkan pribadi Allah subhanahu wata’ala itu sendiri, sedangkan makna  ”birabbil masyaariqi wal-maghaaribi” ini lebih mengarah kepada kekuasaan Allah.

Mungkin akan timbul pertanyaan disini mengapa Allah bersumpah dengan kekuasaannya? Nah, perlu diketahui makna sumpah Allah berbeda dengan sumpah yang  sering diucapkan oleh manusia. Karena sumpah yang Allah ucapkan dengan menggunakan nama sesuatu, menunjukkan bahwa hal tersebut memiliki keistimewaan yang perlu diperhatikan oleh manusia. Salah satu contoh:

وَالْعَصْرِ
Artinya: ”Demi Masa (waktu)” (Qs. Al Ashr : 1)

Ini menunjukkan bahwa waktu dalam Islam begitu penting, makanya sebagai manusia kita harus benar-benar memperhatikan dan mempergunakan waktu sebaik-baiknya, karena hanya orang-orang yang merugilah yang tidak dapat menggunakan waktu sebaik-baiknya. Begitu juga dengan sumpah-sumpah Allah yang lainnya, disini Allah hendak menegaskan kepada kita tentang keistimewaannya.

Makna Kata ”Allah”

Dalam konsepsi Islam, Allah adalah nama diri (proper name) dari Dzat Yang Maha Kuasa. Dalam kaidah bahasa Arab kata Allah itu bentuknya ism jamid, yaitu ”ism yang tidak diambil dari kata kerja”, sehingga tidak dapat dirubah dalam bentuk apapun. Berbeda dengan kata “rabbun”, bentuknya adalah ism mustaq, yakni ism yang diambil dari kata kerja seperti rabba, rabbi, tarbiyatantermasuk kata al-ilah (yang disembah). 
Dengan demikian dalam Islam, "nama Tuhan", yakni "Allah" itu bersifat otentik dan final tidak bisa dirubah-rubah lagi. Allah berfirman dalam Al Qur’an:

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى  [سورة الإسراء: 110]
”Serulah Allah atau serulah Yang Maha Pengasih (ar-Rahman) Dengan nama apa saja kamu menyeru Dia; maka Dia memiliki nama-nama yang indah (asma-ul-husna) (Qs. 17 al-Israa’ : 110)


Makna Kata ”YAHWE” Dalam Agama Yahudi dan Kristen

Lain halnya dengan Kata YHWH, Kaum Yahudi modern hanya menduga-duga, bahwa nama Tuhan mereka adalah Yahweh.

The Concise Oxford Dictionary of World Religions menjelaskan tentang 'Yahweh' 

"The God of Judaism as the ‘ tetragrammaton YHWH, may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God’s name is never articulated, least of all in the Jewish liturgy." 

(Tuhan Kaum Yahudi berasal dari empat huruf YHWH, mungkin pernah diucapkan. Bagi kaum ortodoks dan banyak orang Yahudi, nama Tuhan tidak pernah diartikulasikan, apalagi dalam liturgi Yahudi).

שְׁמַע יִשְׂרָאֵל יְהוָה אֱלֹהֵינוּ יְהוָה ׀ אֶחָֽד
“syema' yisra'el yehovah 'eloheinû yehovah, ekhad "

(Dengarlah Hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa (Ulangan 6:4))

Tidak ada yang tahu persis bagaimana mengucapkan empat huruf sakral יהוה= YHVH dalam Perjanjian Lama, seperti pada ayat diatas. Karena tidak memiliki tradisi sanad yang sampai kepada Nabi Musa a.s. maka kaum Yahudi tidak dapat membaca dengan pasti empat huruf "YHWH". Mereka hanya dapat menduga-duga, empat huruf konsonan itu dulunya dibaca YAHWEH. Karena itu, kaum Yahudi Ortodoks tidak mau membaca empat huruf mati tersebut, dan jika ketemu dengan empat konsonan tersebut, mereka membacanya dengan Adonai (Tuhan).

Sejak pembuangan ke Babel sekitar tahun 586 sebelum Masehi yang berlangsung selama 70 tahun, tabut perjanjian itu tidak ada sehingga kata יהוה= YHVH tidak diucapkan lagi sejak saat itu hingga sekarang. Oleh karena itu -- barangkali karena Imam Besar Yahudi tidak mengajarkan cara mengucapkan kepada keturunannya --tidak ada kalangan Yahudi yang mengetahui cara mengucapkan empat huruf יהוה = YHVH itu dengan tepat.
  
Banyak yang hanya menebak atau menduga bahwa empat huruf ini dibunyikan YAHAVAH, YEHUWA, YAHEVEH, YAHUWEH, YAHAVEH, dan seterusnya, jadi semuanya hanya menduga sehingga akhirnya baik YEHOVAH maupun YAHWEH hanyalah merupakan nama "dugaan". Sementara bagi orang Kristen, "Allah" bukanlah nama diri, seperti dalam konsep Islam. Tetapi, bagi mereka, "Allah" adalah sebutan untuk "Tuhan itu" (al-ilah). Jadi, bagi mereka, tidak ada masalah, apakah Tuhan disebut God, Lord, Allah, atau Yahweh. Yang penting, sebutan itu menunjuk kepada "Tuhan itu". Ini tentu berbeda dengan konsep Islam.

Sebagai Muslim, kita meyakini, Islam adalah agama yang benar. Tuhan kita Allah, yang nama-Nya diperkenalkan langsung dalam al-Quran. Tidaklah patut kita membuat teori-teori yang berasal dari spekulasi akal, dengan menyama-nyamakan Allah dengan yang lain, atau mensyarikatkan Allah dengan yang lain.  

Wallahu a’lam bish-shawwab.

Makna Islam Sebagai Rahmat Bagi Alam Semesta


Memahami Rahmat Islam
“Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS 21: 107). Ayat di atas sering dijadikan hujjah bahwa Islam adalah agama rahmat. Itu benar. Rahmat Islam itu luas, seluas dan seluwes ajaran Islam itu sendiri. Itu pun juga pemahaman yang benar.

Sebagian orang secara sengaja (karena ada maksud buruk) ataupun tidak sengaja (karena pemahaman Islamnya yang tidak dalam), sering memaknai ayat tersebut diatas secara menyimpang. Mereka ini mengartikan rahmat Islam harus tercermin dalam suasana sosial yang sejuk, damai dan toleransi dimana saja Islam berada, apalagi sebagai mayoritas. Sementara dibaliknya sebenarnya ada tujuan lain atau kebodohan lain yang justru bertentangan dengan Islam itu sendiri, misalnya memboleh-bolehkan ucapan natal dari seorang Muslim terhadap umat Nasrani atau bersifat permisive terhadap ajaran sesat yang tetap mengaku Islam.

Islam sebagai rahmat bagi alam semesta adalah tujuan bukan proses. Artinya untuk menjadi rahmat bagi alam semesta bisa jadi umat Islam harus melalui beberapa ujian, kesulitan atau peperangan seperti di zaman Rasulullah. Walau tidak selalu harus melalui langkah sulit apalagi perang, namun sejarah manapun selalu mengatakan kedamaian dan kesejukan selalu didapatkan dengan perjuangan. Misalnya, untuk menjadikan sebuah kota menjadi aman diperlukan kerjakeras polisi dan aparat hukum untuk memberi pelajaran bagi pelanggar hukum. Jadi logikanya, agar tercipta kesejukan, kedamaian dan toleransi yang baik maka hukum Islam harus diupayakan dapat dijalankan secara kaffah. Sebaliknya, jangan dikatakan bahwa umat Islam harus bersifat sejuk, damai dan toleransi kepada pelanggar hukum dengan alasan Islam adalah agama rahmat.

Mencari Rahmat Islam
Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya. Dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu,” (QS al-Baqarah: 208)
Ada banyak dimensi dari universalitas ajaran Islam. Di antaranya adalah, dimensi rahmat. Rahmat Allah yang bernama Islam meliputi seluruh dimensi kehidupan manusia. Allah telah mengutus Rasul-Nya sebagai rahmat bagi seluruh manusia agar mereka mengambil petunjuk Allah. Dan tidak akan mendapatkan petunjuk-Nya, kecuali mereka yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan-Nya. “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik,” (QS al-‘Ankabuut: 69).

Bentuk-bentuk Rahmat Islam
Ketika seseorang telah mendapat petunjuk Allah, maka ia benar-benar mendapat rahmat dengan arti yang seluas-luasnya. Dalam tataran praktis, ia mempunyai banyak bentuk.

Pertama, manhaj (ajaran).
Di antara rahmat Allah yang luas adalah manhaj atau ajaran yang dibawa oleh Rasulullah saw berupa manhaj yang menjawab kebahagiaan seluruh umat manusia, jauh dari kesusahan dan menuntunnya ke puncak kesempurnaan yang hakiki. Allah SWT berfirman, “Kami tidak menurunkan al-Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah),” (QS. Thahaa: 2-3). Di ayat lain, Dia berfirman, “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu…,” (QS Al-Maidah: 3).

Kedua, al-Qur'an.
Al-Qur'an telah meletakkan dasar-dasar atau pokok-pokok ajaran yang abadi dan permanen bagi kehidupan manusia yang selalu dinamis. Kitab suci terakhir ini memberikan kesempatan bagi manusia untuk beristimbath (mengambil kesimpulan) terhadap hukum-hukum yang bersifat furu’iyah. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis dari tuntutan dinamika kehidupannya. Begitu juga kesempatan untuk menemukan inovasi dalam hal sarana pelaksanaannya sesuai dengan tuntutan zaman dan kondisi kehidupan, yang semuanya itu tidak boleh bertentangan dengan ushul atau pokok-pokok ajaran yang permanen. Dari sini bisa kita pahami bahwa al-Qur'an itu benar-benar sempurna dalam ajarannya. Tidak ada satu pun masalah dalam kehidupan ini kecuali al-Qur'an telah memberikan petunjuk dan solusi. Allah berfirman, “Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan,” (QS al-An’aam: 38). Dalam ayat lain berbunyi, “Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri,” (QS an-Nahl: 89).

Ketiga, penyempurna kehidupan manusia
Di antara rahmat Islam adalah keberadaannya sebagai penyempurna kebutuhan manusia dalam tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini. Rahmat Islam adalah meningkatkan dan melengkapi kebutuhan manusia agar menjadi lebih sempurna, bukan membatasi potensi manusia. Islam tidak pernah mematikan potensi manusia, Islam juga tidak pernah mengharamkan manusia untuk menikmati hasil karyanya dalam bentuk kebaikan-kebaikan dunia. “Katakanlah: ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hambaNya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” (QS al-A`raf: 32).
Islam memberi petunjuk mana yang baik dan mana yang buruk, sedang manusia sering tidak mengetahuinya. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (QS al-Baqarah: 216).

Keempat, jalan untuk kebaikan.
Rahmat dalam Islam juga bisa berupa ajarannya yang berisi jalan / cara mencapai kehidupan yang lebih baik, dunia dan akhirat. Hanya kebanyakan manusia memandang jalan Islam tersebut memiliki beban yang berat, seperti kewajiban sholat dan zakat, kewajiban amar ma’ruf nahi munkar, kewajiban memakai jilbab bagi wanita dewasa, dan sebagainya. Padahal Allah SWT telah berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya,” (QS al-Baqarah: 286). Pada dasarnya, kewajiban tersebut hanyalah untuk kebaikan manusia itu sendiri. “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri,” (QS al-Isra’: 7).


Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa ajaran Islam itu adalah rahmat dalam artian yang luas, bukan rahmat yang dipahami oleh sebagian orang menurut seleranya sendiri. Rahmat dalam Islam adalah rahmat yang sesuai dengan kehendak Allah dan ajaran-Nya, baik berupa perintah atau larangan. Memerangi kemaksiatan itu adalah rahmat, sekalipun sebagian orang tidak setuju dengan tindakan tersebut. Jihad melawan orang kafir yang zalim adalah rahmat, meskipun sekelompok manusia tidak suka jihad dan menganggapnya sebagai tindakan kekerasan atau terorisme. Allah berfirman, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (QS al-Baqarah: 216).

Hendaknya kita jujur dalam mengungkapkan sebuah istilah. Jangan sampai kita menggunakan ungkapan seperti sejuk, damai, toleransi, rahmat, dan sebagainya, kemudian dikaitkan dengan kata ‘Islam’. Sementara ada tujuan lain yang justru bertentangan dengan Islam itu sendiri.
Wallahu a’lam bish shawab.
Disadur dari tulisan DR. Muslih Abdul Karim, www.aldakwah.org

Andai Kamu Tahu...



Andai kamu tahu, bagaimana pedih dan perihnya perjuangan menyebarkan Islam yang dijalani Rasulullah saw. dan para sahabatnya, kamu akan sangat menghargai jerih payah mereka. Kamu akan bangga dengan tetesan keringat, darah dan air mata Rasulullah dan para sahabatnya. Kamu akan membayar usaha mereka dengan prestasi yang kamu tunjukkan, juga dalam membela Islam.
Tahukah kamu, perjuangan Rasulullah saw. penuh dengan risiko. Dalam suatu kesempatan Rasulullah saw. berhenti di depan rumah sejumlah kabilah sembari berkata: “Wahai Bani Fulan, sesungguhnya aku ini adalah Rasulullah untuk kalian, memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Hendaklah kalian meninggalkan penyembahan kepada selain-Nya sekaligus beriman kepadaku, membenarkanku, dan membelaku sampai aku menjelaskan dari Allah wahyu-Nya yang dengan itu Dia mengutusku.” (dalam Sirah Ibnu Hisyam)
Ketika itu paman beliau, Abu Lahab sedang berdiri di belakang beliau. Dia menolak segala ucapan Nabi saw. sekaligus mendustakannya. Saat itu, tak ada seorang pun yang mau menerima ajakan beliau. Mereka kemudian berkata, “Kaummu saja, yang lebih mengetahui tentang siapa dirimu, tidak mengikutimu.” Duh, orang terdekat saja malah mendustakan.
Teman, jika kamu bisa mengetahui dan memahami beratnya perjuangan di masa awal-awal berkembangnya Islam, insya Allah kamu bisa lebih bijak dalam hidup ini. Nggak asal aja. Bahkan nggak layak kalo sampe meninggalkan ajaran Islam dan berpaling menyambut ideologi lain selain Islam. Kagak bakalan deh. Sangat boleh jadi akan kamu pertahankan Islam ini dengan harta dan nyawa sebagai taruhannya.
Sobat muda muslim, andai kamu tahu, dan juga paham bahwa ajaran Islam mampu mengguncangkan hati setiap orang, insya Allah kamu bakalan menjadikan Islam ini sebagai senjata dan obat penawar bagi rusaknya kehidupan saat ini. Kamu pun berdiri sebagai pengembannya dan berjuang sekuat tenaga.
Atas hidayah Allah Swt. dan dakwah Rasulullah yang gencar, maka orang sekeras Umar bin Khaththab pun bertekuk lutut di hadapan Rasulullah saw. dan menyatakan kesediaannya memeluk agama Allah ini. Dinding es yang selama ini melindungi Umar dari kebenaran, ternyata mampu cair dengan dakwah Islam yang diemban Rasulullah dan para sahabatnya. Andai kamu tahu, maka tidak ada alasan buat kamu, untuk merasa risih dengan kondisi kamu yang masih belum sempurna. Kamu bisa menjadi baik dengan Islam. Yakinlah. Kondisi kamu yang jauh dari nilai Islam jadikan sebagai masa lalu kamu, tapi bersinar dengan Islam adalah masa depanmu.
Seperti halnya saat Khalid bin Walid akan memeluk Islam. Ia menyadari betul posisi dirinya yang pernah menjadi panglima perang kaum Quraisy dan sempat berhadapan dengan kaum muslimin di Perang Uhud. Sangat boleh jadi jika diukur dengan hawa nafsu, beliau akan gengsi bin keki. But, karena ajaran Islam jauh lebih mempesona, akhirnya Khalid pun mengucap dua kalimah syahadat. Bahkan di kemudian hari ia menjadi panglima perang Islam yang berhasil menaklukan Romawi. Masih ingat kata-kata heroik beliau ketika mengancam panglima perang Romawi dengan kata-katanya yang tajam, “Kalau kalian tidak tunduk, akan aku kirim pasukan yang mencintai kematian sebagaimana pasukan kalian mencintai hidup!”? Subhanallah. Dan andai kamu tahu, kamu pun insya Allah bisa menjadi pembela dan pejuang Islam yang tangguh. Kamu bisa meneladani Khalid bin Walid ra.
Sobat muda muslim, andai kamu tahu dan juga paham, bahwa Islam adalah agama yang mencerahkan kehidupan manusia, insya Allah kamu akan berdiri paling depan sebagai pejuang dan pembelanya. Seperti ketika Usamah bin Zaid, yang menjadi panglima perang di usianya yang baru genap 18 tahun. Semangat Usamah patut kita teladani. Gimana nggak, usia belia ternyata bukan halangan utuk menjadi orang yang hidupnya semata untuk Islam. Usia muda, bukan halangan bagi Usamah untuk minder, tapi ia bahkan menjadi orang yang bertanggung jawab sebagai pemimpin pasukan Islam. Padahal bro, di situ banyak para veteran Perang Badar seperti Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan masih banyak lagi para sahabat Rasulullah yang usianya beda jauh dengan Usamah.
Subhanallah, mencintai Islam dengan sepenuh hati adalah nafas yang dihembuskan dalam hidup Usamah. Pemuda perkasa yang menjadi pejuang dan pembela Islam. Kita semua yakin, andai kamu tahu bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna, dan kamu yakini sepenuh hatimu, insya Allah semangatmu untuk membela Islam nggak pernah luntur. Bahkan kian hari akan semakin meneguhkan pendirianmu. Ya, sekali lagi, andai kamu tahu, dan juga paham tentang Islam.
Sobat, andai kamu tahu semangatnya Abdullah Ibnu ‘Umar, insya Allah kamu pun ingin seperti dia. Di usianya yang menginjak 13 tahun, sudah kebelet ingin ikut berjihad bersama Rasulullah saw. Jihad baginya adalah impian yang sejak lama berusaha ia wujudkan jadi kenyataan. Maka, beliau bersama al-Barra’ ngotot ingin berperang (jihad) bersama pasukan Rasulullah dalam perang Badar. Namun oleh Rasulullah saw. ditolak karena masih kecil. Untuk sementara impiannya belum terwujud jadi kenyataan. Tahun berikutnya pada perang Uhud, beliau tetap ditolak, hanya al-Barra’ yang boleh ikut. Barulah keinginannya yang tak tertahankan itu terpenuhi pada saat perang Ahzab, Rasul memasukkannya ke dalam pasukan kaum Muslim yang akan memerangi kaum Musyrik (Shahih Bukhari jilid VII, hal. 226 dan 302).
Sobat muda muslim, andai kamu tahu bahwa Islam pernah merambah hampir sepertiga dunia, pastinya kamu bakal bangga dengan Islam. Yup, Islam pernah berjaya dan hampir seluruh daratan di bumi ini terwarnai dengan Islam. Itu semua berkat jerih payah para pendahulu kita dalam menyebarkan Islam.
Kamu kenal Thariq bin Ziyad? Beliaulah penakluk Spanyol. Dikisahkan, sesaat setelah armada tempur lautnya merapat di pantai, beliau berdiri di atas bukit karang dan berpidato. Dalam pidatonya yang berapi-api itu, beliau memerintahkan pembakaran kapal-kapal yang telah membawa seluruh awak pasukannya dari Afrika pada 711 M, kecuali beberapa pasukan kecil yang diminta pulang untuk meminta bantuan kepada Khalifah.
Pidato ‘kontroversial’ itu karuan aja membuat pasukannya keheranan. Namun beliau mengatakan, “Kita datang ke sini tidak untuk kembali. Hanya dua pilihan; menaklukkan negeri ini dan menetap di sini serta mengembangkan Islam, atau kita semua binasa (syahid).” Subhanallah, sungguh mengagumkan.
Tak ayal lagi, itu membuat pasukannya bangkit dan segera menyusun kekuatan untuk menggempur pasukan Spanyol yang terkenal kuat. Atas pertolongan Allah Swt. pasukan Raja Rhoderick yang berkekuatan 100.000 pasukan tumbang di tangan pasukan kaum muslimin yang hanya berjumlah 7000 pasukan ditambah 5000 pasukan susulan. Spanyol kemudian berkembang pesat, dan bahkan sempat menjadi pusat pemerintah Islam. Spanyol menjadi center of excellent. Sekarang, Islam di Spanyol tinggal kenangan. Menyedihkan.
Andai kamu tahu bahwa di tanah Uzbekistan, negeri yang kini dipimpin oleh Islam Karimov, tengah terjadi pembantaian para aktivis Islam oleh rejim Karimov, pastinya kamu bakalan geram dan gelisah. Hasrat hatimu kuat ingin membela nasib saudara kita yang tertindas. Uzbekistan dan sekitarnya adalah negeri para periwayat hadis kesohor, di antaranya Imam Bukhari dan Imam Nasa’i. Sayangnya, banyak kaum muslimin yang cuek dengan kenyataan ini. Siapa yang mau menolong mereka selain kita semua?
Sobat muda muslim, andai kamu tahu kondisi sehari-hari di Palestina, pastinya kesedihan, keharuan, dan kekesalan bercampur jadi satu. Aksi tentara Yahudi Israel yang doyan menjagal rakyat Palestina, harusnya membakar semangat untuk membela saudara kita dan menghancurkan serdadu-serdadu Yahudi. Saatnya kita belajar kepada keberanian Shalahuddin al-Ayubi yang merebut kembali Palestina dari tangan pasukan salib Eropa.
Andai kamu tahu, bahwa kapitalisme dan sosialisme (termasuk komunisme) adalah ideologi sesat dan menyesatkan, niscaya kamu nggak bakalan tergoda untuk meyakini dan memperjuangkannya. Sebaliknya, kamu akan menyingkirkan ideologi itu dari kehidupanmu, dan menegakkan ideologi Islam. Pasti!
Kita sebagai pejuang
Sobat muda muslim, andai kamu tahu dan menyadari bahwa kemunduran umat Islam ini adalah karena kaum muslimin meninggalkan agamanya, niscaya akan berupaya sekuat tenaga untuk selalu terikat dengan ajaran Islam. Kita mundur setelah kita mencampakkan Islam. Setelah kita nggak menjadikan Islam sebagai ideologi. Tapi sayang banget, kaum muslimin saat ini nggak ngeh kalo sekarang justru tengah menderita. Celaka dua belas euy!
Saat ini, kaum muslimin gandrung banget dengan pemikiran dan budaya yang disebar musuh-musuh Islam. Maklumlah, kemasan yang ditawarkan amat menggiurkan. Itu sebabnya, jangan kaget kalo ada remaja yang gampang hadir di acara konser musik meski kudu membayar dengan harga mahal, ketimbang duduk bersila dengerin ceramah di masjid. Aneh kan?
Banyak banget yang punya cita-cita jadi seleb ketimbang jadi pengemban dakwah. Sangat boleh jadi karena profesi sebagai seleb identik banget dengan beken dan tajir. Sementara jadi pengemban dakwah, imejnya jelek banget. Bahkan seringkali identik dengan kemiskinan. Udah gitu tampilannya kuleuheu alias kumuh. Pake sarungan mulu, pake peci, dan juga bawa tasbih. Waduh, padahal nggak selalu kudu tampil begitu kan? Gambaran seperti inilah yang ikut ngasih cap jelek buat Islam. Maklumlah kalo jadi seleb pujian kerap hadir, sampe di panggung pun dilempar pake bunga segala. Eh, begitu ustadz yang ‘manggung’ dilempar pake bunga juga seh, tapi lengkap dengan potnya. Gubrak!
Seringkali kajian Islam itu nggak menarik minat orang untuk datang dan dengerin (*bab thaharoh mulu seh).. Itu sebabnya, saatnya kita ngasih kemasan yang menarik utuk memikat kaum muslimin dengan Islam. Sampaikan bahwa Islam itu nggak kumuh, nggak kuno. Sebab, Islam itu emang modern, mencerahkan pemikiran, sekaligus menjadi pandangan hidup yang benar yang bakalan menyelesaikan berbagai problem kehidupan saat ini. Islam ini sempurna dan paripurna sobat. Firman Allah Swt.: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS al-Maaidah [5]: 3)
Andai saja kamu tahu, bahwa perjuangan Islam ini membutuhkan tenaga, pikiran, waktu, harta, bahkan nyawa kita, niscaya kita akan menyerahkannya dengan sukarela. Kita bakalan tampil sebagai pejuang dan pembela Islam. Nggak kenal rasa takut. Pantang menyerah.
Sobat, kita adalah kaum muslimin, umat yang mulia di hadapan Allah. Firman Allah Swt.: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS ali ‘Imran [3]: 110)
Jadi, nggak pantes banget kalo kita cuma menjadi penonton di saat Islam dan umatnya terpuruk. Itu sebabnya, mari kita berjuang untuk menegakkan kembali Islam sebagai ideologi negara, di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Nah, karena sekarang kamu udah tahu, jadi kobarkan semangat untuk membela dan memperjuangkan Islam. Allahu Akbar! ?
http://www.dudung.net/buletin-gaul-islam/andai-kamu-tahu.html
 






Minggu, 24 Oktober 2010

Belajar Alkitab : Benarkah Matius 27:9 merujuk ke Nubuat Yeremia? Bukti kealpaan seorang penulis Injil Matius..


Matius 27:9

27:9 Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan olehnabi Yeremia: “Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel,

Para pembaca yang budiman, jika anda ingin membuktikan ucapan penulis Injil versi Matius bahwa Nabi Yeremia menubuatkan peristiwa pengkhianatan Yudas karena tiga puluh uang perak, maka percayalahanda tak akan mendapatkan hal itu dalam seluruh Kitab Yeremia…
Sepanjang anda meyakini bahwa Injil yang ditulis versi Matius ditulis berdasar ilham Roh Kudus yang tak mungkin salah, maka kenyataan ini akan menakutkan bagi anda.
Kenyataan bahwa apa yang ditulis penulis Injil Matius ternyata bukannya merujuk ke Nubuat Nabi Yeremia tapi justru sebenarnya merujuk ke Kitab Nabi Zakharia…
Inilah sebenarnya Kitab yang dimaksud oleh penulis Injil Matius, Kitab Zakharia…
Zakaria 11:12-13

11:12 Lalu aku berkata kepada mereka: “Jika itu kamu anggap baik, berikanlah upahku, dan jika tidak, biarkanlah!” Maka mereka membayar upahku dengan menimbang tiga puluh uang perak.

11:13 Tetapi berfirmanlah TUHAN kepadaku: “Serahkanlah itu kepada penuang logam!” — nilai tinggi yang ditaksir mereka bagiku. Lalu aku mengambil ketiga puluh uang perak itu dan menyerahkannya kepada penuang logam di rumah

Para pembaca yang budiman, ketahuilah bahwa ada banyak hal yang bukan ucapan Yesus akan tetapi sekedar komentar penulis Injil yang tak luput dari kesalahan dalam memahami ajaran Nabi Yesus Kristus putra Maria..
Pembaca yang budiman, kembalilah kepada apa telah dikabarkan oleh Tuhan yang disembah Yesus..
AlBaqarah 79. Maka kecelakaan yAng besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan

Transkrip dialog Tafsir Ulangan 18:18 Yesus Kristus adalah Nabi seperti Musa atau Yesus bukan Nabi seperti Musa?


Albert R. :

Ada seorang yang memakai nama ‘Jalan Avraham’ mempunyai situs web http://jalanibrahim.wordpress.com/ yang khusus membahas tentang Islam dalam Alkitab. Dia sangat yakin bahwa Islam (Muhammad) memang benar-benar ada dalam Alkitab. Salah satu dasar yang dipakainya adalah Ul 18:15 dan 18.

Ayat 15,18: ”Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan…Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya

Berikut adalah sebagian transkrip ‘dialog’ antara Jalan Avraham dan seorang yang bernama ‘Chika’ mengenai Ulangan 18:18:
http://jalanibrahim.wordpress.com/2009/12/28/transkrip-siapakah-nabi-seperti-musa/
Kelihatannya Jalan Avraham sangat ‘bangga’ / ‘bahagia’ dengan jawaban dari seorang ‘Chika’ yang mendukung pandangannya. Hmm…Saya hanya menganjurkan Jalan Avraham untuk berdialog dengan orang yang lebih tepat.
Ini jawaban saya: Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah siapa yang mengucapkan ayat-ayat ini dan ditujukan kepada siapa? Mari kita lihat Ulangan 1:1
”Inilah perkataan-perkataan yang diucapkan Musa kepada seluruh orang Israel di seberang sungai Yordan, di padang gurun, di Araba-Yordan, di tentangan Suf, antara Paran dengan Tofel, Laban, Hazerot dan Di-Zahab” (Ul 1:1).
Ayat ini jelas mengatakan bahwa Musa-lah yang mengucapkannya dan ditujukan pada seluruh orang Israel.
Dari ayat 15 dan 18, kita mendapati bahwa
‘nabi’ yang akan datang itu adalah berasal “dari tengah-tengah Israel”
Dari antara “Saudara-saudara Israel”
“Sama seperti Musa”
Nabi itu akan mengatakan “Segala yang diperintahkan Allah kepadanya”
Inilah ciri-ciri orangnya, dia harus berasal dari Israel dan dari saudara-saudara Israel.
Siapakah saudara Israel? Israel adalah nama lain dari Yakub anak Ishak (Kej 32:28). Saudara kandung Yakub adalah Esau (Kej 25:21-26). Esau yang menurunkan bangsa Edom, sebenarnya juga bukan ‘saudara’ Israel (bdk Rom 9:4-13). Yang dimaksud dengan “saudara-saudara Israel” jelas menunjuk pada 12 suku Israel. 12 suku bangsa Israel adalah anak-anak Yakub (Kej 35:22b-26).
Ciri selanjutnya adalah orang tersebut harus sama seperti Musa yaitu berasal dari Israel, menyatakan kuasa Allah melalui mujizat dan seorang yang membawa / mengajarkan Firman Tuhan. Musalah yang membawa Taurat/Perjanjian Lama dan Injil / Perjanjian Baru / Kristus adalah kegenapan / tujuannya.

Jalan Ibrahim :

Albert…seandainya nubuatan itu untuk Nabi Jesus Kristus maka bagaimanakah anda memahami ayat Nubuatan dibawah..?

Ulangan 34:10 Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi Nabi yang bangkit di antara orang Israel..

Albert R :

Tidak ada lagi nabi yang bangkit”, menunjukkan bahwa setelah Musa, maka tidak akan ada lagi nabi yang bangkit yang sama seperti Musa, sampai ‘Dia’ yang dinubuatkan dalam Ul 18:15 hadir.

Jalan Ibrahim :

Sebetulnya tidak perlu serumit itu mempertemukan dua ayat itu, Albert temanku…
Bahwa kenabian itu diberikan kepada bangsa lain selain bangsa Bani Israel sangat jelas…
Diberikan kepada Bangsa Saudara Israel…
Saudara Israel ada dua kemungkinan
Esau..
atau anak-anak paman Israel, yakni Bani Ishmael
Baik Esau maupun Ismael keduanya menurut ALkitab menurunkan bangsa yang dibenci bangsa Yahudi…
Yakni Bangsa …..

Albert.R :

Teks dalam Ulangan 18:15,18, sangat jelas bahwa nabi yang dimaksud adalah dari Bani Israel. Ayat itu tak bicara pada Esau saudara kandung Israel, karena Israel dan Edom / keturunan Esau adalah dua bangsa yang berbeda. Isarel adalah bangsa yang diberkati / anak perjanjian sedangkan Esau ‘ditolak’.
Itu juga tidak mungkin menunjuk pada keturunan Ismael, karena Ismael itu bukan ‘saudara’

Jalan Ibrahim:

Itulah letak kesulitannya temanku..
Ulangan 34:10 Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka, tidak ada lagi Nabi yang bangkit di antara orang Israel..
Jika tidak ada lagi Nabi seperti Musa yang bangkita diantara orang Israel..
Maka tentulah anda paham bahwa yang dibangkitkan adalah dari “Saudara

Albert.R:

Saya tidak merasa sulit teman…
Jika anda memahami Ul 34:10 seoerti itu, maka akan bertentangan dengan Ul 18:15 dan 18, yang mengatakan bahwa nabi itu akan muncul dari “tengah-tengah Israel” (bukan dari bangsa lain yang manapun juga) dan dari “saudara-saudara Israel” (12 suku Israel).

Jalan Ibrahim:

Ya…okelah jika demikian..
Jika anda berkeras demikian, maka kami pun tidak menolak jika yang dimaksud adalah Yesus Kristus..
Karena kami pun meyakini bahwa Yesus Kristus adalag Nabi seperi Musa..
dan Musa adalah hamba Tuhan dan utusanNya untuk Bani Israel..
Nabi Musa bukan Tuhan dan Musa juga bukan anak Tuhan..
Kami sepakat dengan anda..
Yesus bukan Tuhan dan Yesus juga bukan anak Tuhan..
Nabi Yesus adalah Nabi seperti Musa..
Kami sepakat

Albert.R:

Nabi Musa bukan Tuhan dan Musa juga bukan anak Tuhan..
Kami sepakat dengan anda..
Albert: Ok
JA: Yesus bukan Tuhan dan Yesus juga bukan anak Tuhan..
Kami sepakat
Albert: Saya tidak sepakat dengan ini.

Jalan Ibrahim:

lho..bagaimana ini..Setelah kami mengalah dan setuju dengan anda bahwa yang dimaksud Nabi seperti Musa adalah Yesus, anda malah tidak sepakat?
Kalau anda meyakini bahwa Musa  bukan Tuhan dan bukan anak Tuhan, maka konsekuensinya Yesus pun bukan Tuhan dan bukan anak Tuhan…
Jika tidak maka Yesus bukan NABI SEPERTI MUSA..
Silakan pilih….
A.Yesus adalah NABI seperti MUSA
B. Yesus Bukan NABI seperti MUSA